Konsultasi pasang iklan
Mau pasang Iklan
Kami menyediakan baby sitter
Tranpil , siap kerja untuk Bayi , Balita dan perawat
Hub. Yayasan Citra Sari Mandiri
Ibu Sari : 021.9826.3275 - 7115.9567
Daerah Meruya - Bisa antar
SEMPURNAKAN DIRI ANDA DENGAN . . . .
Parfum , segar harum tahan lama, original
30 mili Rp. 35.000 / 40.000
50 mili Rp. 50.000
100 mili Rp. 75.000
hub 24 jam : telp 0817.9108.005
Jual Parfum Biang, bisa untuk usaha juga
Dicari Supervisor - Karyawan TOKO pria - wanita
Tang City dan Taman Palem dan Poris
Telp . 021.9140.9440

LOWONGAN KASIR - WAITER - TUKANG MASAK
WANITA
0817.9108.005
..<< = Info Kesehatan = >>..

Monday, 8 September 2008

Punya Bokong Besar Jauh dari Serangan Diabetes

Bentuk pinggul dan bokong besar tidak selamanya membuat penampilan kita tidak sedap dipandang tapi justru bisa melindungi Anda dari serangan penyakit diabetes. Berdasarkan hasil penelitian Dr Ronald Kahn dari Uni­versitas Harvard (Boston - AS), lemak yang terkumpul di ba­wah kulit justru membantu mem­perbaiki kepekaan hormon in­sulin. Hormon inilah yang ber­tang­gung jawab mengatur per­eda­ran darah.

Kahn bersama para peneliti lainnya melakukan eksperimen pa­da tikus percobaan. Dalam eksperimen, tikus percobaan men­dapatkan pencangkokan sejenis lemak ke dalam perut hingga ke­mudian menyusut. Sekalipun tikus tidak memiliki kesempatan diet atau level aktivitas mereka membaik. “Ini hasil yang menge­jut­kan. Kami menemukan efek yang dapat memberi manfaat. Ter­utama jika kamu meletakkan lemak jauh di kedalaman perut,” kata Kahn. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Cell Metabolism.
Kahn memulai penelitian atas dasar ingin mengetahui lemak yang diletakkan pada daerah tubuh yang berbeda, maka akan memberikan efek yang berbeda. Tim peneliti menguji teori bahwa lemak yang terkumpul dalam perut atau dikenal sebagai “lemak dalam” kadang-kadang bisa meningkatkan risiko penyakit diabetes dan jantung.

Sementara orang bertubuh bulat, berlemak di pinggul dan bokong, justru berisiko lebih rendah terkena penyakit diabetes dan jantung. Lalu, dia mengembangkan beberapa tahap eksperimen. Tahap pertama, para peneliti mencangkok sel lemak dari tikus pendonor ke dalam perut tikus uji coba.

Lemak itu ditanam di bawah kulit tikus uji coba. Tikus yang mendapatkan cangkokan lemak di bawah kulit perut mereka justru menjadi semakin kurus setelah beberapa pekan. Selain itu, tikus ini juga mengalami perbaikan peredaran darah dan level hormon insulin dibandingkan tikus lainnya yang tidak mengalami pen­cang­kokan. “Apa yang kami temukan ini adalah setelah menanamkan lem­ak, ada perbaikan metabolisme tubuh. Kami kira ini merupakan hasil temuan yang penting,” ujar Khan.

Pasalnya, tidak semua lemak selalu buruk. Namun, untuk me­nge­tahui lebih jauh aspek khusus apa dari sel lemak, memerlukan pe­nelitian lanjutan. Para peneliti bertujuan menemukan zat kimia yang diproduksi sel lemak yang memberi harapan pengembangan obat antidiabetes, atau lainnya. Meskipun lemak dikenal mem­pro­duksi sejumlah hormon, menurut Kahn, selama proses eks­pe­rimen tidak satu pun hormon yang dikenal muncul.

“Jika kami bisa merekam zat kimia tersebut, mungkin kami akan memiliki ke­sempatan untuk mengubahnya menjadi pedoman untuk mem­buat obat,” sebutnya.

Namun, bagi pemilik pinggul dan bokong besar, tidak semua mendapatkan kabar baik. Sebab, berdasarkan hasil penelitian tim peneliti dari RS Adelaide, Dublin, Irlandia, bokong besar justru mengurangi efektivitas suntikan obat. Menurut Ketua Tim Peneliti Victoria O Chan, bokong yang besarnya terlalu berlebihan pada wanita justru mengurangi keefektifan vaksin, obat pengurang rasa sakit, kontrasepsi, serta obat-obatan lainnya.

Sebab, obat-obatan tersebut harus disuntikkan melalui otot gluteal pada bokong. “Suntikan yang dilakukan melalui bokong yang terlalu besar ternyata tidak efektif. Ini terbukti dari hasil analisa pada populasi orang dewasa di negara Barat,” kata Chan.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti melibatkan 50 pasien sebagai responden pria dan wanita dengan usia antara 21-87 tahun. Semua responden menerima suntikan obat melalui bokong. Setelah itu, para responden dijadwalkan mengikuti analisa menggunakan CT Scan.

Para peneliti kemudian menyuntikkan obat bersama satu mililiter udara, lalu CT Scan melacak keberadaan gelembung udara dan obat tersebut.

Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah obat benar-benar telah masuk ke dalam jaringan otot, atau terhenti dan terganggu karena lemak.

Terbukti, berdasarkan hasil CTScan yang dianalisa oleh tim peneliti, hanya 32 persen suntikan obat pada bokong besar yang benar-benar mampu mencapai jaringan otot.

Sementara sisanya terhenti dan terganggu oleh sel lemak. Kasus ini lebih banyak ditemukan pada wanita ketimbang pria.

Perbandingannya 56 persen pria berbokong besar suntikan obatnya masih bisa mencapai jaringan otot. Sementara pada wanita hanya 8 persen atau dua dari 25 responden.

Chan masih belum bisa menyimpulkan seharusnya berapa banyak obat yang diberikan kepada orang dengan bokong besar agar efektif. rm

Kulit bersih alami
Karakter pria sejati
Trend Cincin Kawin

Source : rmexpose.com

0 comments:

Relation:

Topic Relation

Steam Coal | Industri Dan Niaga